Dua hal yang saling terkait dalam pertumbuhan dan perkembangan otak anak adalah stimulasi dan nutrisi sejak dalam kandungan. Semakin sering distimulasi, maka akan semakin kuat koneksi antar sel saraf otak.
Pada minggu ke-29 kehamilan, proses apoptosis akan terjadi. Proses apoptosis adalah mekanisme biologi tubuh manusia, dimana proses ini memangkas jaringan yang tidak diperlukan atau yang tidak digunakan. Jika bayi menggunakan otaknya lebih sering pada trimester akhir, maka semakin banyak sel otaknya yang akan terus hidup. Riset menemukan bahwa semakin banyak stimuli dari orang tua, baik ayah maupun ibu akan semakin merangsang sel otak untuk berhubungan satu dengan lainnya, jumlah neuron atau sel otak yang dipangkas dapat diminimalisasi. Tapi tentunya sang ibu juga harus mengkonsumsi makanan sehat, istirahat yang cukup, dan menghindari alkohol, kafein, rokok, obat-obatan atau racun lainnya.
Selain panca indera, intelegensi/daya pikir janinpun sebenarnya bisa menerima rangsangan dari luar. Pada ibu-ibu yang aktif menggunakan daya pikirnya selama hamil, hormon tertentu yang merangsang otak untuk siaga yang dikeluarkan karena otak melakukan prosees berpikir juga menuju kepada janin. Anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang menggunakan daya pikirnya selama hamil secara umum kelihatan lebih pandai. Meskipun demikian, tingkat intelegensi anak ditentukan oleh faktor genetis maupun lingkungan, misal intelegensi orangtua, gizi anak dala kandungan, gizi yang dikonsumsi ibu selama hamil dan suasana yang menunjang selama perkembangan anak yaitu pada usia di bawah 5 tahun.
Menurut para ahli obstetri dan ginekologi bahwa pemberian rangsangan bisa dilakukan saat syaraf janin sudah tumbuh sempurna, yaitu setelah usia kandungan 12 minggu sehingga stimulasi pada panca indera janin sudah bisa dilakukan untuk meningkatkan intelegensi janin dalam kandungan. Stimulasi suara/musik, cahaya dan intelegensi akan terekam di memori janin dan akan meningkatkan intelegensi janin dalam kandungan.